Jumat, 23 Juli 2010

Sepatan Tertinggi Kasus Gizi Buruk

Kasus balita dengan gizi buruk masih marak terjadi di hampir semua kecamatan di Kabupaten Tangerang. Namun, rekor tertinggi masih dipegang Kecamatan Sepatan. Daerah di kawasan Kabupaten Tangerang Utara itu menjadi kecamatan yang paling banyak ditemukan kasus balita gizi buruk.

Di antara 5.900 balita yang terdaftar di Puskesmas Sepatan, 178 bayi mengalami malnutrisi (nama lain gizi buruk). Angka ini didapat dari hasil penimbangan terakhir hingga Agustus 2009 lalu. Sedangkan di tahun 2008, terdapat 154 balita gizi buruk dari 5.000 balita yang terdaftar di Puskesmas Sepatan.

"Jumlahnya memang mengalami peningkatan. Kecamatan Sepatan menjadi yang tertinggi kasus balita gizi buruk dalam dua tahun terakhir," kata dr Indra Suardi, Kepala Puskesmas Sepatan, Rabu (11/11/2009).

Hari itu, Puskesmas Sepatan mendatangkan dokter ahli spesialis gizi dari RSUD Tangerang. Di ruang klinik gizi puskesmas itu, puluhan balita dan anak-anak menjalani pemeriksaan. Hari itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang memang sedang mengadakan pemeriksaan gizi gratis.

Hasil pemeriksaan, banyak balita dan anak-anak memiliki berat tubuh tidak sebanding dengan usianya. Salah satunya adalah Nindi. Putri pasangan Asep dan Mulyati ini memiliki berat badan hanya 9,7 kilogram. Padahal usianya kini sudah 10 tahun. Jika dibandingkan dengan berat badan anak-anak seusianya, Nindi tergolong mengalami malnutrisi.

Mulyati, ibu kandung Nindi mengatakan kondisi tidak wajar pada tubuh Nindi mulai terlihat sejak putrinya itu berusia 4 tahun. Ketika itu, Nindi mengalami gejala sakit panas. Keadaan ekonomi dengan penghasilan pas-pasan memaksa warga Desa Karet RT 01/01 Kecamatan Sepatan itu hanya pasrah ketika putrinya tak bisa mendapatkan perawatan. Kini, penyakit Nindi bertambah parah. Ia tidak bisa berjalan dan berbicara.

"Saya kerja jualan sayur. Penghasilan saya rata-rata Rp 7 ribu-Rp 15ribu perhari. Kalau suami saya bekerja sebagai pengumpul barang bekas. Uang yang saya terima dari suami Rp 200 ribu tiap dua bulan sekali," kata Mulyati.

Kepala Puskesmas Sepatan dr Indra Suardi menjelaskan penyakit yang diderita Nindi disebabkan malnutrisi atau penyakit kurang gizi yang tidak tertangani secara dini. Secara umum, dr Indra Suardi mengatakan akar permasalahan kasus gizi buruk di kecamatan ini memang cukup kompleks.


Faktor utama adalah kondisi ekonomi keluarga balita yang lemah. Selain itu, minimnya pengetahuan orang tua tentang pemberian gizi seimbang kepada bayi. Hal lain yang ikut memicu kasus gizi buruk, tambah Indra, adalah lingkungan yang kumuh.

Lebih jauh Indra mengatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi kasus gizi buruk. Diantaranya pemberian makanan tambahan seperti susu dan biskuit, memberikan penyuluhan tentang gizi dan
menempatkan kader di pos gizi setiap desa. "Yang terpenting sebenarnya adalah meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pemberian gizi seimbang kepada bayi," kata Indra.

Puskesmas Sepatan saat ini menjadi percontohan penanganan gizi buruk. Artinya, perawatan penderita gizi buruk sudah dapat dilakukan di puskesmas ini melalui rawat inap. Selama ini, perawatan inap penderita gizi buruk hanya dilakukan di RSUD Tangerang. Sepanjang 2009 ini, Puskesmas Sepatan sudah merawat inap penderita gizi buruk sebanyak 11 balita. (bh/gun)


Sumber :

Sugara Radithya - klikp21.com  

http://klikp21.com/metronews/4370-sepatan-tertinggi-kasus-gizi-buruk

12 November 2009



Tidak ada komentar:

Posting Komentar